𝓓π“ͺ𝓢𝓹π“ͺ𝓴 𝓒𝓸𝓿𝓲𝓭-19 𝓑π“ͺ𝓰𝓲 π“œπ“ͺ𝓱π“ͺ𝓼𝓲𝓼𝔀π“ͺ 𝓑π“ͺ𝓷𝓽π“ͺ𝓾



Gambar : Covid-19 (diambil dari BALIPOST.com)

Menjadi seorang mahasiswa yang menimba ilmu di tanah rantau memang menghasilkan kisah-kisah unik dan pengalaman hidup menarik. Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah kampus memilih untuk meniadakan perkuliahan di kelas dan menggantinya dengan kuliah daring. Banyak mahasiswa yang akhirnya memilih untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Meski demikian, tidak semua mahasiswa perantau pulang ke asalnya, sebagian memilih untuk tetap bertahan di perantauan. Salah satu yang tengah digadang-gadang adalah gerakan #dirumahaja, yaitu dengan menghindari bertemu dengan banyak orang dan berdiam diri di rumah. Social distancing ini dinilai efektif untuk mengurangi penularan virus.

Kebijakan social distancing ini berdampak pada berbagai aspek. Salah satunya dalam bidang pendidikan. Berbagai universitas mengubah metode belajar yang semula secara tatap muka menjadi daring atau online. Kebijakan ini-pun merambat dan mempengaruhi aktivitas kampus lainnya, seperti kegiatan organisasi dan kegiatan kemahasiswaan lainnya. Kebijakan tersebut tentunya juga membuat mahasiswa berbondong-bondong untuk pulang. Pulang memang menjadi hal yang dinantikan bagi mahasiswa. Selain dikarenakan kuliah yang bisa dilaksanakan tanpa tatap muka, selain itu rasa aman dan nyaman di rumah menjadi alasan terkuat bagi beberapa mahasiswa untuk pulang.

Selama kebijakan pemerintah, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini membuat sebagian mahasiswa rantau di Jakarta dan sekitarnya kesulitan untuk mencari makan dan data internet. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memperpanjang masa kuliah selama satu semester untuk mencegah mahasiswa keluar dari kampus alias drop out (DO) beberapa contoh seperti mahasiswa yang sedang mengurus proposal skripsi, merasa aman pulang kampung karena sudah berbekal nomor kontak petugas puskesmas setempat. Harapannya, kesehatan akan diperiksa sebelum berbaur dengan keluarga. 

➧ Sisi Positif Pendemi Covid-19 Dari Sudut Pandang Mahasiswa Rantau

Kabar mengenai virus corona atau COVID-19 yang masuk ke Negara Indonesia menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat. Pandemi COVID-19 ini juga sangat mempengaruhi seluruh aktivitas masyarakat. Dalam dunia pendidikan  dampak dari pandemi ini yaitu dengan diliburkannya berbagai  kegiatan sekolah serta perguruan tinggi di seluruh tanah air dan dialihkan dari pembelajaran tatap muka menjadi E-learning. Hal ini tentunya membuat kondisi menjadi kurang nyaman karena berubahnya sistem dalam pembelajaran, namun walaupun demikian sebagai mahasiswa kita perlu untuk mengambil sisi positif dari setiap peristiwa terjadi. Berikut ini adalah beberapa hal positif yang dapat kita peroleh dari pandemi COVID-19 ini berdasarkan sudut pandang mahasiswa:

1. Berkumpul bersama keluarga
Dengan adanya sistem pembelajaran E-learning setiap mahasiswa mau tidak mau akan belajar dari rumah atau tempat tinggal masing-masing. Setelah mendapat pengumuman mengenai perkuliahan yang di lakukan dengan sistem E-learning sebagian besar mahasiswa rantau kembali ke rumah mereka masing-masing, atau beberapa mahasiswa lainnya masih ada yang memilih untuk menetap di kosan. Sebenarnya memilih untuk tetap tinggal di kosan merupakan pilihan yang baik dan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus ini. Namun, berkumpul dengan keluarga adalah kerinduan bagi kebanyakan mahasiswa rantau yang sering homesick. Pandemi COVID-19 ini membuat para mahasiswa dapat berkumpul dengan keluarga yang mungkin biasanya waktu di habiskan untuk kegiatan akademik maupun non-akademik di kampus.

2.  Ujian dalam bentuk Take Home Test
Pada pertengahan semester tentunya setiap perguruan tinggi melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) untuk menguji kemampuan mahasiswa mengenai apa yang sudah dipelajari selama setengah semester. Pada saat Ujian Tengah Semester mahasiswa harus mampu menguasai setiap bahan yang sudah di pelajari pada masing-masing mata kuliah dan sebagian besar mengharuskan mahasiswa untuk menghapal setiap teori yang sudah di pelajari sehingga pada saat ujian mampu menjawab setiap pertanyaan dengan hasil yang maksimal. Namun, dengan sistem pembelajaran E-learning setiap ujian di laksanakan dalam bentuk Take Home Test yang artinya ujian ini bersifat open book sehingga dengan adanya ujian bersifat open book dapat lebih memudahkan para mahasiswa dalam mempersiapkan ujian, sehingga jika kesempatan ini di manfaatkan dengan sebaik mungkin menjadi sebuah kesempatan untuk meningkatkan IPK di semester genap ini.

3. Pola hidup sehat
Seperti yang sudah banyak di gaungkan mengenai pencegahan pandemi COVID-19 ini yaitu adalah dengan rajin mencuci tangan, menjaga pola tidur yang baik, tetap berolahraga dengan memperhatikan social distancing, serta menjaga pola makan yang sehat. Bagi seorang mahasiswa terkadang pola hidup sehat cenderung di abaikan seperti pola makan yang tidak teratur, jarang berolahraga, pola tidur larut malam dan berbagai pola hidup kurang baik lainnya. Terkait dengan informasi mengenai virus ini yang dapat di cegah dengan pola hidup yang sehat membuat banyak teman-teman mahasiswa yang mulai mengubah pola hidup mereka menjadi lebih baik untuk mencegah terjangkitnya virus ini.

(Gambar : Covid-19 (diambil dari ayoPurwakarta.com)

 Sisi Negatif Pendemi Covid-19 Dari Sudut Pandang Mahasiswa Rantau

      1. Takut Membawa Virus
Salah satu alasan mahasiswa rantau bertahan untuk tidak mudik yakni kekhawatiran bahwa mereka akan menjadi carrier atau pembawa virus yang bisa membahayakan keluarga di rumah. Menurut Bobby Dava salah satu mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya ( FIB ), Universitas Sebelas Maret ( UNS ) Surakarta adalah tidak mudik karena merasa takut jika pulang kerumah malah membawa wabah corona, jadi lebih memilih tetap tinggal di kosan. Selain itu dia merasa bisa melakukan isolasi mandiri lebih optimal di kos karena 1 kamar hanya dihuni oleh 1 orang. Berbeda dengan rumah yang dihuni oleh banyak orang.

2. Merasakan Kuliah Daring Dengan Banyak Kendala
Beberapa kampus sudah menerapkan kuliah daring sejak 16 Maret 2020. Hal serupa juga sudah diterapkan pada waktu yang sama oleh kampus-kampus negeri maupun swasta. Perkuliahan daring ini memanfaatkan berbagai aplikasi penunjang, seperti Google Classroom, Quizziz, Whatsapp Group, Zoom, Anchor, dan sebagainya. Meski demikian, ada beberapa hal yang dikeluhkan oleh mahasiswa terkait dengan metode kuliah daring, diantaranya adalah biaya kebutuhan internet membengkak, kewalahan akibat tugas atau dosen yang masih kurang ahli memanfaatkan teknologi.

3. Memenuhi Kebutuhan Makan
Urusan makan memang sudah menjadi problematika mahasiswa rantau. Apalagi, akibat kebijakan social distancing maka banyak warung yang tutup. Hal ini membuat mereka yang masih bertahan di perantauan harus pintar memutar otak untuk mengisi perutnya. Menurut salah satu mahasiswa rantau mengungkapkan bahwa semenjak banyak warung yang tutup, dia lebih memilih untuk memasak sendiri di kos, cari makan masih ada secara online walaupun jauh, tetapi merogoh kocek lebih dalam. Antisipasinya memasak sendiri dan membeli bahan sendiri.

Wabah covid-19 ini adalah ujian yang diberikan oleh Tuhan untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya. Setiap musibah selalu terdapat banyak hikmah di dalamnya, Tuhan tidak sia-sia memberikan kita musibah. Kelak badai yang diakibatkan oleh wabah covid-19 ini akan melahirkan sosok yang lebih tangguh dan cerdas. Maka janganlah mengeluh ketika mendapatkan ujian dari Tuhan. 

Penulis : Clarissa Almira Salsabila Majid 
Dosen : Marsofiyati, S.Pd., M.Pd. 

Referensi Penulis : 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π’¦π‘’π“ˆπ’Άπ“ƒ 𝒹𝒢𝓃 π’«π‘’π“ˆπ’Άπ“ƒ π“Šπ“ƒπ“‰π“Šπ“€ π’¦π‘œπ“‚π“…π“Šπ“‰π‘’π“‡ π’œπ’Ήπ“‚π’Ύπ“ƒπ’Ύπ“ˆπ“‰π“‡π’Άπ“ˆπ’Ύ 𝒹𝒢𝓃 𝒫𝑒𝓃𝒹𝒾𝒹𝒾𝓀𝒢𝓃 π’œπ’Ήπ“‚π’Ύπ“ƒπ’Ύπ“ˆπ“‰π“‡π’Άπ“ˆπ’Ύ π’«π‘’π“‡π“€π’Άπ“ƒπ“‰π‘œπ“‡π’Άπ“ƒ